Sabtu, 16 Juni 2012

Pragmatik (Lokusi, Ilokusi, Perlokusi)

TINDAK TUTUR LOKUSI, ILOKUSI,
DAN PERLOKUSI DALAM KEHIDUPAN SEHARI-HARI



BAB I
PENDAHULUAN


A.    Latar Belakang Masalah

       Dalam kehidupan di masyarakat manusia selalu melakukan interaksi atau hubungan dengan sesamanya adalah bahasa. Bahasa dan manusia merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan, dalam arti keduanya berhubungan erat. Bahasa merupakan alat komunikasi yang paling penting bagi manusia karena dengan bahasa manusia dapat mengekspresikan apa yang ada dalam pikiran atau gagasannya. Agar komunikasi dapat berlangsung dengan baik, manusia harus menguasai keterampilan berbahasa. Tarigan (1986 : 2) menyatakan bahwa keterampilan berbahasa meliputi empat macam, yaitu keterampilan menyimak, berbicara, membaca, dan menulis. Setiap keterampilan bahasa mempunyai hubungan yang erat dan konsep berpikir yang mendasari bahasa. Bahasa seseorang mencerminkan pikiran, semakin terampil seseorang berbahasa semakin cerah dan jelas pula pikirannya. Kridalaksana (1984 : 28) berpendapat bahwa bahasa adalah sistem lambang arbiter yangdigunakan untuk bekerja sama, berinteraksi, atau mengidentifikasikan diri. Meningkatkan bahasa sebagai lambang makna dalam bahasa lisan lambang itu diwujudkan dalam bentuk tindak ujar dan dalam bahasa tulis wujud simbol tulisan dan keduanya memiliki tempat masing – masing. Baik bahasa lisan maupun tulisan digunakan manusia untuk berkomunikasi. Komunikasi secara langsung, misalnya ceramah, diskusi, dan tanya jawab. Sedang yang melalui media, contoh iklan di televisi, siaran di radio, penulisan opini atau artikel di majalah, surat kabar, dan lain – lain. Bahasa lisan, khususnya yang berupa tindak ujar atau tindak tutur dapat menimbulkan efek bagi penutur bahasa. Efek yang ditimbulkan oleh bahasa terhadap penutur adalah suatu tindakan tertentu sebagai umpan balik. Umpan balik memainkan peranan yang sangat kecil sebab ia menentukan berlanjutnya komunikasi atau berhentinya komunikasi. Iklan merupakan berita pesanan untuk mendorong, membujuk kepada khalayak ramai tentang benda atau jasa yang ditawarkan atau pemberitahuan kepada khalayak ramai mengenai barang atau jasa yang dijual, dipasang di media massa (Kamus Besar Bahasa Indonesia, 1999 : 322). Kajian pragmatik tentang tindak tutur sangat menarik untuk dilakukan, khususnya tindak tutur yang sering terjadi atau terdapat dalam kehidupan kita sehari-hari, seperti tindak tutur lokusi, ilokusi, perlokusi, dan banyak juga ditemukan banyak tuturan berita, tanya, dan perintah. Oleh karena itu, dalam makalah sederhana ini, saya akan membahas tentang tindak tutur lokusi, ilokusi, dan perlokusi yang sering ditemukan atau terdapat di dalam kehidupan sehari-hari.
   

B. Perumusan Masalah
      Dari uraian dalam latar belakang masalah, maka rumusan masalahnya adalah:
1. Apa yang dimaksud  tindak tutur lokusi, ilokusi, dan perlokusi?
2. Bagaimana contoh-contoh konstruksi penggunaan tindak tutur lokusi, ilokusi, dan    perlokusi yang terdapat dalam kehidupan sehari-hari dan berikan penjelasannya!

C. Metode Penulisan
      Metode Penulisan adalah dengan metode analisis dari berbagai sumber baik itu berupa tuturan yang ditemui dalam masyarakat maupun sumber-sumber lainnya  yang merupakan semua informasi atau bahan yang diserahkan oleh alam (dalam arti luas) yang harus dicari atau dikumpulkan dan dipilah sendiri oleh penulis.


D. Tujuan Penulisan
      Secara umum, penulisan makalah ini bertujuan untuk memberikan penjelasan kapada pembaca dalam hal ini mahasiswa PBSID UNHALU tentang tindak tutur lokusi, ilokusi, dan perlokusi.
Secara khusus, penulisan makalah ini adalah merupakan salah satu sarana yang digunakan penulis untuk memenuhi persyaratan dalam mengikuti ujian final mata kuliah Pragmatik yang dibimbing oleh Ibu Sulfiah, S.Pd., M.Hum.


BAB II
PEMBAHASAN


       Kridalaksana (1993 : 21) mengungkapkan batasan dalam kamus linguistik, bahasa adalah sistem lambang bunyi yang bersifat arbitrer yang dipergunakan oleh para anggota suatu masyarakat untuk bekerja sama, berinteraksi dan mengidentifikasikan diri. Definisi ini serupa dengan yang ada dalam Keei (1995 : 66) yang mendefinisikan bahasa sebagai sistem lambang bunyi yang bersifat sewenang – wenang dan konvensional dan dipakai sebagai alat komunikasi untuk melahirkan perasaan dan pikiran. Fungsi Bahasa Nababan (1993 : 38) menyatakan bahwa fungsi paling dasar dari bahasa adalah sebagai alat komunikasi, yaitu alat pergaulan dan perhubungan sesama manusia. Peristiwa komunikasi terjadi apabila penutur bebicara kepada mitra tutur dengan mengungkapkan bahasa yang saling dimengerti studi pragmatik berkaitan dengan penggunaan bahasa.
      Linguistik sebagai ilmu kajian bahasa yang memiliki berbagi cabang. Cabang – cabang itu diantaranya adalah fonologi, morfologi, sintaksis, semantik, dan pragmatik. Keempat cabang linguistik yang pertama mempelajari struktur bahasa secara internal, sedangkan pragmatik adalah cabang ilmu bahasa yang mempelajari struktur bahasa secara eksternal, yakni bagaimana kesatuan bahasa itu digunakan (Wijana, 1996 : 1). Yang dimaksud dengan peristiwa tutur adalah terjadinya atau berlangsungnya interaksi linguistik dalam satu bentuk ujaran atau lebih yang melibatkan dua pihak yaitu penutur dan lawan tutur dengan satu pokok tuturan di dalam waktu, tempat, dan situasi tertentu. Jadi, interaksi yang berlangsung antara pedagang dan pembeli di pasar pada waktu tertentu dengan menggunakan bahasa sebagai alat komunikasinya adalah sebuah peristiwa tutur. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1999 : 1058), langkah atau perbuatan, sedangkan tutur diartikan ucapan, kata, perkataan (1999 : 1090). Dari dua pengertian tersebut tindak tutur dapat diartikan sebagai perbuatan memproduksi tuturan atau ucapan. Oleh Tarigan dijelaskan (1986 : 36) bahwa tindak tutur atau tuturanyang dihasilkan oleh manusia dapat berupa ucapan. Ucapan dianggap suatu bentuk kegiatan atau suatu tindak ujar. Pada tahun 1962 dalam bukunya yang berjudul How to Do Thinks with Word, Austin telah membedakan tiga jenis tindak ujar, yaitu : 1. Tindak tutur lokusi Tindak tutur lokusi adalah tindak tutur yang menyatakan sesuatu dalam arti “berkata” atau tindak tutur dalam bentuk kalimat yang bermakna dan dapat dipahami. Tindak tutur ini juga bersifat informasi dan tidak menuntut partisopan melakukan tindakan. 2. Tindak tutur lokusi Tindak tutur ilokusi adalah tindak tutur yang diidentifikasikan dengan kalimat performatif yang eksplisit. 3. Tindak tutur perlokusi Tuturan yang diucapkan seorang penutur sering memiliki efek atau daya pengaruh (perlocutinary force). Efek yang dihasilkan dengan mengujarkan sesuatu itulah yang oleh Austin (1962 : 101) dinamakan tindak perlokusi. Berikut adalah contoh dan penjelasannya.
1.    Tindak tutur lokusi merupakan tindak tutur yang bersifat informasi dan memiliki konsep keuniversalan dan tidak mempengaruhi petutur.
Contoh:
- Jumlah kaki pada kucing ada empat
- itik merupakan salah satu jenis unggas

Penjelasannya: Kedua konstruksi di atas sifatnya adalah informasi yang diberikan oleh seorang penutur kepada seorang petutur dan tidak mempengaruhi petutur tersebut untuk melakukan sebuah tindakan. 
2.    Tindak turur ilokusi, merupakan tindak tutur yang berfungsi tidak hanya menyatakan sesuatu (seperti tindak lokusi) tetapi dapat digunakan untuk melakukan sesuatu.
Contoh:
- Ada orang ujian
- Kukumu sudah panjang

Penjelasannya: pada konstruksi yang pertama biasanya diujarkan oleh seseorang yang sedang mengawas ujian dan bermakna mengingatkan kepada lawan bicaranya agar tidak melakukan keributan atau mengingatkan agar tetap tenagn karena ada yang sedang ujian. Begitu pula pada kontruksi yang kedua, biasanya ujaran seperti ini diujarkan oleh seorang ibu kepada anaknya atau kakak kepada adiknya yang bertjuan untuk mengingatkan anak atau adiknya tersebut segera menggunting kukunya yang sudah panjang tersebut. Jadi, kedua konstruksi ini bersifat peringatan agar lawan tuturnya melakukan sesuatu ssuai konteks tuturannya.

3.    Tindak tutur perlokusi, merupakan sebuah tuturan yang dituturkan yang seringkali mempunyai daya pengaruh atau efek bagi yang mendengarkan. Tidak tutur ini, pengutaraanya dimaksudkan untuk mempengaruhi lawan tutur.
Contoh:
- kemarin, saya sedang sibuk sekali
- saya sedang tidak di rumah

Penjelasannya: Pada konstruksi yang pertama, biasanya kostruksi ini diujarkan oleh seseorang kepada lawan tuturnya untuk memberikan penjelasan karena mungkin tidak bisa menghadiri sebuah kegiatan yang diadakan oleh si petutur sehingga dimaksudkan untuk mempengaruhi si petutur agar memafkannya dan memaklumi ketidakhadirannya. Begitu juga pada konstruksi yang kedua, konstruksi Ini bisa jadi diujarkan oleh seorang penutur karena si petuturnya ingin berkunjung ke rumahnya dan dia ingin memberikan penjelasan kepada si petutur bahwa dia sedang tidak di rumah sehingga hal itu mempengaruhi si petutur untuk memaklumi penolakan dari si penuitur.



BAB III
PENUTUP


A. Kesimpulan
      Dari uraian-uraian di atas, maka dapat diambil sebuah kesimpulan bahwa secara pragmatic, di dalam sebuah interaksi komunikasi pada sebuah peristiwa tutur maka akan ada tindak tutur yang dimunculkan yaitu tindak tutur lokusi, ilokusi, dan perlokusi seperti yang sudah terdapat dalam contoh dan penjelasannya pada bagian Pembahasan.

B. Saran
     Berdasarkan uraian-uraian di atas, penulis menyadari bahwa masih banyak sekali kekurangan-kekurangannya. Oleh karena itu, disarankan kepada pembaca agar kedepannya bisa melengkapi dan menyempurnakan tulisan ini.












Tidak ada komentar:

Poskan Komentar